Soal FTW, Begini Kata Ketua Panitia Syahjuan Fatgehipon

Panitia FTW 2023 saat menemui Kemenparekraf RI di Jakarta || Foto : Istimewa

BORERO.ID SULA – Event ramah lingkungan di Festival Tanjung Waka (FTW) 2023 tidak lama lagi dihelat. Persiapan FTW akan digelar awal November 2023 ini tidak luput dari peran Syahjuan Fatgehipon. Pejabat tak banyak bicara, justru lebih suka bertindak ini berulang kali dipercayakan menjadi ketua panitia oleh Bupati Kepulauan Sula, Fifian Adeningsi Mus.

Kepada media ini, Jumat (27/10/2023), Syahjuan mengatakan jika membangun sebuah peradaban pariwisata itu bukan hal yang instan, butuh kerja keras, investasi besar, serta pastinya dukungan dari masyarakat sadar wisata.  “Kami pernah melakukan studi banding ke salah satu desa wisata di Bondowoso-Jatim, desa Panglipuran, 20 tahun yang lalu mereka itu desa termiskin di Jatim, tapi sekarang pendapatan desa itu minimal 1 miliar perbulan”,  cerita Kepala Bappeda Pemda Sula ini.

Dari cerita tersebut, dirinya ingin menggambarkan bahwa kegigihan dan semangat warga desa Panglipuran patut ditiru oleh warga sula saat ini. “Mereka tadinya tidak punya potensi apa-apa, daerahnya hampir 80% itu hutan bambu, mereka berjuang sekitar 15 tahun sampai akhirnya meraih predikat desa wisata terbersih nomor satu dunia dan sekarang punya penghasilan yang luar biasa”, tambah Syahjuan, pria yang cukup senior dikalangan ASN pemda Sula.

Jika FTW merupakan salah satu upaya merintis pembangunan dan mengembangkan pariwisata di kepulauan Sula. “Saya memaklumi jika hari ini masih banyak kritikan yang dialamatkan kepada kami, namun ada hal baik yang mau saya sampaikan, jika FTW sudah masuk prioritas pengembangan pariwisata di kemenparekraf, sejalan dengan masuknya FTW pada jajaran KEN tahun 2023, tentu ini sesuatu yang harus kita sambut secara optimisme untuk terus mengembangkan potensi pariwisata di Tanjung Waka”, tutur ketua panitia FTW ini.

Baca jugaFTW Ajang Pelestarian Budaya dan Pertumbuhan Ekonomi

Syahjuan berharap, pentingnya kesadaran masyarakat wisata karena menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan wisata di suatu daerah. “Saya pernah berkunjung di desa Pulang Pisau (kini sudah jadi kabupaten) di provinsi Kalteng, daerah yang awalnya hanya dikelilingi rawa-rawa dan dipenuhi pohon pandan, namun berkat  dukungan masyarakat yang sadar akan wisata, kurang lebih dalam kurun waktu 25 tahun kini daerah tersebut sektor pariwisata menjadi unggulan penyumbang PAD”,  ujar Syahjuan. 

Ia menambahkan bahwa hari ini mungkin FTW belum signifikan menyumbang PAD, namun dari festival Tanjung Waka sudah dikenal secara nasional, bahkan beberapa negara di dunia bahwa di kepulauan Sula ada destinasi wisata yang tidak kalah menarik dengan pantai Anyer di Banten. ” Atau seperti pantai Jimbaran di Bali, dan bahkan Gili Trawangan di Lombok, Tanjung Waka akan seperti itu” tandas Sahjuan Fatgehipon. (*)

Penulis* : Karno Pora

Editor : Sandin Ar