Ramos Jadi Bintang, Portugal Sudah Tak Butuh Ronaldo?

Cristiano ronaldo dicadangkan saat portugal melawan swiss di 16 besar piala dunia qatar 2022. ( dok : istimewa)

Fernando Santos tidak goyah. Sang pelatih Portugal mencadangkan si kapten karena dia menunjukkan sikap tidak hormatnya saat melawan Korea Selatan. Ya, Santos tidak tunduk dengan pandangan publik, sementara sang deputy Ronaldo, Goncalo Ramos, mampu tampil sensasional. Anak muda 21 tahun itu telah mencetak dua gol, lalu mengkreasi yang lainnya. Jadi, tidak ada jalan bagi Santos untuk menariknya. Ramos kemudian menuntaskan hat-trick dengan penyelesaian apik untuk mengunci kemenangan bombastis 6-1 atas Swiss. Jangan lupakan pula beberapa gol keren dari Pepe, Raphael Guerreiro dan Rafael Leao, dan bahkan kameo dari Ronaldo, yang sayangnya sang megabintang pun tak bisa mengungguli sensasi serangan baru Portugal. Goal merangkum pemenang dan pecundang di malam fantastis Portugal itu di Qatar.

Ronaldo yang frustrasi, tampil sangat buruk selama fase grup, yang lantas berpuncak pada sikap tidak hormatnya pada pelatih Fernando Santos saat meninggalkan lapangan laga kontra Korea Selatan. Degradasinya ke bangku cadangan sepenuhnya dibenarkan, baik dari perspektif olahraga dan disiplin.

Kita membicarakan Ronaldo. Dia adalah salah satu yang terbaik sepanjang masa. Dia bukan hanya kapten Selecao, dia adalah jimat tim selama lebih dari sedekade, dan seringkali jadi dewa penyelamat. Seandainya Santos keliru, dia tidak hanya akan diserang oleh suporter Portugal, tapi juga dunia. Namun, Santos memperlakukan Ronaldo dengan tepat. Bukan hanya karena Ramos mencetak hat-trick, tapi juga fakta bahwa Portugal tampil jauh lebih bebas, luwes dan potensi yang lebih menjanjikan tanpa keberadaan topskor internasional sepanjang masa itu. Dengan ‘mengurung’ Ronaldo, Santos ibarat telah membebaskan timnya sendiri.

Baca juga3 Pemain Maroko yang Kejutkan Spanyol

Goncalo Ramos

Seleksi kontroversial yang dilakukan Santos menempatkan beban yang superberat di pundak Goncalo Ramos. Di usia 21 tahun, di penampilan perdana untuk negaranya, di panggung sebesar fase 16 besar Piala Dunia, dan ditugasi untuk menggantikan Ronaldo! Perlu dicatat, striker Benfica ini hanya memiliki 33 menit bermain sebelum pertandingan ini. Namun, dia hanya butuh 17 menit berikutnya untuk menunjukkan kenapa dia tepat untuk dipilih.

Pemain portugal gocalo ramos yang menjadi bintang kontrak swiss (dok : istimewa)

Mengingat sudutnya, sepertinya kans Ramos kecil untuk menaklukkan Yann Sommer dari sisi kiri area penalti, Tapi, sang penyerang melepas tembakan yang sangat ganas, dengan kiper Swiss tersebut hanya bisa bersikap mati kutu. Gol keduanya, penyelesaian di tiang dekat dengan rapih, sementara yang ketiga adalah gol indah. Saat dia berlari untuk merayakan tripel golnya, Ramos seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dicapainya. Dia pun menjadi pemain pertama Portugal yang mencetak hat-trick di knock-out Piala Dunia sejak Eusebio. Di malam yang memperlihatkan kebintangan Ronaldo mulai memudar, yang lain terlahir ke dunia!

Pepe

Bagaimana mungkin di usia 39 tahun melakukan seperti itu? Ada kekhawatiran bahwa usia akan menggerogoti sang bek selama fase grup, mulai melemah, terutama saat berhadapan dengan pemain yang lincah dan cepat. Kendati begitu, dia mampu berdiri tegak di antara barisan bek lainnya, dan hebatnya dia sukses mencetak gol kedua Portugal untuk menjadi pemain tertua yang mengukir gol di babak gugur Piala Dunia. Perlu dicatat pula bahwa Pepe rupanya memiliki dua gol lebih banyak di fase gugur dibanding Ronaldo. Pepe mungkin selalu jadi sosok yang mempolarisasi. Mencintai atau membencinya, sulit untuk tidak menghargai usia kariernya yang panjang.

Cristiano Ronaldo

Harapan tinggal harapan. Ronaldo memaksudkan Piala Dunia adalah ajang untuk menegaskan kembali kehebatannya, membungkam mereka yang mempertanyakan karakternya setelah memaksa angkat kaki dari Manchester United dengan cara yang jelek dan tidak profesional. Namun begitulah dia. Di sini, dia duduk di bangku cadangan selama 70 menit karena pembangkangan dan ketidakmampuannya. Itu merupakan pertama kalinya dia ditepikan dari starting line-up Portugal di turnamen mayor sejak Euro 2008 – rekor 31 pertandingan beruntun yang berakhir dengan keadaan memalukan.

Jadwal piala dunia 8 besar (dok : istimewa)

Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Dia datang ke Qatar dengan bentuk yang jauh dari kata tajam karena sikap memalukannya di Old Trafford tampaknya ikut terbawa. Lalu, dia memberi Santos alasan yang sangat logis untuk mencampakkannya dari tim karena mengungkapkan ketidakpuasannya dengan pergantian yang sebetulnya dibenarkan. Sulit melihat bos Portugal ini akan kembali memanggilnya di laga perempat-final.

Fans Ronaldo

‘Cristiano, kami datang untukmu’ tertulis di spanduk yang dibentangkan sebelum kick-off. Mereka benar-benar tidak tertarik melihat pertandingan atau pun pemain lainnya. Untuk alasan itu, babak kedua menjadi lelucon, dengan para fans Ronaldo bersiul dan mencemooh keputusan Santos agar memasukkan Ronaldo sedini mungkin.

Sang pelatih mengawasi dengan ketat kemenangan pertama Portugal di babak gugur sejak Piala Dunia 2006, tetapi dia harus bertahan dalam suasana pantomim. Ronaldo jelas adalah idola banyak orang, tapi itu adalah memalukan. Memang relevan dengan era fandom ini. Namun, melawan Korea Selatan, Ronaldo tak menghormati Santos. Di sini, para pengikutnya yang buta, melakukan hal yang sama. ( sumber :  Goal.com Indonesia)

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *