BORERO.ID HALSEL — Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) bakal melakukan penyesuaian tarif dasar air Tahun 2022. Ini karena selema 16 Tahun PDAM Halsel masi menggunakan tarif lama sejak jaman Kabupaten Halmahera Barat.
Penyesuaian tarif dasar air ini ditelah disepakati diangka 35-36 persen. Sementara tarif dasar air yang dipakai selama 16 tahun Rp. 3. 117 per meter kubik. Hal ini tidak sebanding dengan biaya operasional selama ini diangka Rp 5. 492 per meter kubik. Dalam hitungan PDAM terjadi kerugian sebesar Rp 2.375 per meter kubik.
Direktur PDAM, Soleman Bobote menjelaskan, selama 16 tahun ini PDAM Halsel masih menggunakan tarif jaman Kabupaten Halmahera Barat Rp3.117 per meter kubik sehingga menyebabkan PDAM mengalami kerugian Rp38. 672.042.194. Menurut Soleman, penetapan tarif dasar air ini mengacu pada hasil audit BPKP yang mengatakan tarif dasar air PDAM di Halsel terendah di Maluku Utara dibandingkan dengan Kabupaten dan Kota lain, sehingga setiap tahun PDAM Halsel terus mengalami kerugian. “Jadi kita menyesuaikan tarif dasar air untuk keluar dari defisit. Selain itu, penetapan tarif dasar air ini juga sesuai arahan BPKP dan diamanatkan dalam Permendagri nomor 71 tahun 2016,” ungkapnya.
Lanjut Soleman, sesuai data tahun 2020 tarif dasar air Kabupaten dan Kota di Maluku Utara bervariasi. Di Halsel diangka Rp 3. 117 per meter kubik, Kabupaten Kepulauan Sula Rp3.317, Halbar Rp3.440, Pula Morotai Rp4.009, Halut Rp4.360, Halteng Rp4.570, Kota Ternate Rp5.216 dan Kota Tidore Kepulauan Rp6. 758. “Tujuan utama kami dengan ditetapkannya dasar air ini untuk meningkatkan kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Emang ini.
Selama 16 tahun kata Emang, PDAM tidak memiliki tarif dasar air. Sampai pada tahun 2022 ini Kabupaten Halsel dibawah kepemimpinan Bupati Usman Sidik, PDAM dapat menentukan tarif dasar air. “Itu artinya kita sudah mandiri karena memiliki tarif dasar air sendiri tidak lagi menggunakan tarif lama atau dari Kabupaten Induk dulu,” cetusnya. “Selain itu, masyarakat kita juga sudah merdeka dengan kualitas air yang sehat. Sehingga masyarakat pengguna air bisa senyum terus,” sambungnya.

Meski menggunakan tarif dasar air yang sangat rendah, perusahaan milik daerah ini mampu meraih peringkat pertama dari sisi kinerja di tahun 2020 dibandingkan Kabupaten dan Kota lain. Penilaian dari sisi kinerja ini PDAM Halsel meraih angka 2,91 menyusul Halbar 2,67 Tikep 2, 47 Halteng 2,33 Sula 2,19 Balut 2,16 Ternate 2,05 dan Kepulauan Morotai 1,72. “Walaupun tarif dasar kita rendah tapi kinerja kita bagus atau PDAM Halsel sehat dengan angka 2,91 itu,” kata Emang.
Selain itu, PDAM juga mendapatkan penyertaan modal dari Pemkab Halsel di tahun 2022 sebesar Rp 2 miliar dan di 2023 direncanakan Rp 2,8 miliar. Anggaran miliaran itu kata Emang, digunakan untuk menyediakan fasilitas dan kebutuhan pelayanan ke masyarakat seperti belanja pipa, meteran dan kebutuhan lainnya.
“Pada intinya masyarakat jangan panik dan khawatir dengan adanya penetapan tarif dasar air ini, karena masih diangka yang sangat murah dibandingkan di kabupaten dan kota lain di Maluku Utara,” pungkasnya. (Red/Nan)


