TIDORE  

Mochtar Djumati : Bagus Menang, Rakyat Sejahtera

BORERO.ID,- Warga Dusun Roi, Oba Tengah mendapat pencerahan dalam Kampanye Terbatas dan Tatap Muka paslon BAGUS pada Kamis, (03/12).

Dengan tolak ukur yang bersandar pada periode sebelumnya, Mochtar Djumati membeberkan bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dilakukan oleh petahana untuk menanggulangi angka kemiskinan.

“Setiap tahun angka kemiskinan terus bertambah dalam periode sebelumnya. Terhitung mencapai 6.170 orang,” ungkap Mochtar Djumati.

Lanjutnya, fakta tersebut sulit disangkal, sebab demikian adanya. Kekurangan maupun kegagalan dalam periode sebelumnya patut dijadikan sebagai gambaran bahwa kepemimpinan sebaiknya tidak berlanjut. Oleh karena itu, perubahan menjadi mutlak untuk diperjuangkan.

Meskipun ada usaha-usaha dari petahana dengan menggeser atau memelintir wacana dalam tiap kampanye, rasanya tidak akan mempan. Mau menggunakan cara yang pura-pura logis dengan penggalan kalimat, “lebih berpengalaman” pun tidak lagi berpengaruh. Sebab masyarakat juga mengalami. Tepatnya, masyarakat benar-benar merasakan berada pada keadaan terabaikan, luput, tidak dipedulikan, dan dibiarkan begitu saja, bahkan mungkin dilupakan. Hal tersebutlah yang membuat masyarakat menaruh penilaian terhadap pemimpin.

Maka Mochtar Djumati dengan lugas mengingatkan, masyarakat hanya dianggap penting ketika musim pemilu tiba. Sebuah peringatan yang klasik, tapi terjadi secara faktual. Inilah yang menjadi akar permasalahan yang jeli dilihat oleh paslon BAGUS. Dengan relasi yang terputus terhadap masyarakat, seorang pemimpin akan mengalami kerumitan untuk mencoba peruntungannya kembali dalam pilkada.

Sebagai lawan tanding dengan betul-betul menunjukkan persaingan yang tak main-main, BAGUS adalah lawan yang berat bagi petahana. Apalagi mereka tampil dengan tawaran visi yang jelas, yaitu kesehatan dan pendidikan memberikan kesan mendalam pada warga Oba Tengah khususnya dan Tidore pada umumnya.

“Pelayanan kesehatan tentu harus ditingkatkan sekaligus dengan pendidikan. Dua persoalan ini yang sering ditepuk sebelah tangan oleh periode sebelumnya.

Oleh karena itu, bersama Basri Salama dan Ustad Guntur Alting (BAGUS), kita raih perubahan ke arah yang baik dan memberdayakan masyarakat dengan bijak, dengan tidak mengeksploitasi dengan janji, tetapi memberi arti pada mereka dengan nurani,” tegas Mochtar Djumati.

Selain itu, pada Kampanye dan Tatap Muka yang diadakan di Galala, Mochtar Djumati mengatakan bahwa perjuangan mereka tidak sama dengan pepatah yang berbunyi, “sambil menyelam minum air”. Artinya, berjuang sambil meraup keuntungan untuk kepentingan pribadi, bukan kepentingan bersama. Akan tetapi, ini murni untuk jalan kebaikan, sehingga berdosa bila ada kecurangan yang disengaja selama proses sejauh ini.

“Kami berjuang tanpa syarat, saya di setiap momentum politik ini selalu berjuang habis-habisan dan tanpa syarat, karena saya percaya dengan pasangan Pak Basri dan Ustad Guntur dapat membawa daerah ini menjadi lebih baik,” ungkap Mochtar Djumati.

Kemudian ia menutup pembicaraannya dengan serius dan penuh harap kalau dalam praktik politik masih terbesit niatan atau kepentingan untuk diri sendiri, sebaiknya berhenti. Karena hajatan ini demi kepentingan bersama sehingga tak etis jika memanfaatkan atau rela dimafaatkan oleh kepentingan yang sementara, seperti membuat jalan, got, dsb.

Ia mengarahkan untuk percaya pada BAGUS dengan visi-misinya dalam memajukan sekaligus menyejahterakan masyarakat Tidore.

“Berhentilah menyimpang dengan kepentingan-kepentingan pragmatis. Ada hal besar yang sedang direncanakan ke depan. Sebab jika daerah ini maju, kita (masyarakat) bisa sejahtera,” tutupnya. (Red)

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *