BPBD Kota Ternate Antisipasi Pemukiman Warga di Daerah Miring

Kepala BPBD Kota Ternate, Muhammad Iksan Hamsa. (Dok : iin afriyanti hasan/borero.id)

BORERO.ID TERNATE– Pemukiman warga di lahan kemiringan atau di bawah lereng gunung Gamalama saat ini mulai berkembang. Ini karena kemungkinan dataran datar di Kota Ternate mulai terbatas.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) Kota Ternate akan memonitoring pemukiman di daerah kemiringan itu jika terjadi cuaca tidak baik. Hal demikian sebagai bentuk antisipasi kepada warga ketika menghadapi potensi longsor. Kejadianya, seperti di Kelurahan Rua dan Ngade saat hujan melanda wilayah Ternate, kemarin. Ada rumah warga retak saat terjadi tanah longsor waktu hujan.

Kepala BPBD Kota Ternate, Muhammad Iksan Hamsa, tidak melarang warga untuk membangun pemukiman di daerah kemiringan tersebut. Hanya saja, ia berharap kepada warga perlu berikhtiar serta ada kerjasama terkait pengurangan resiko kebencanaan.

Iksan mengaku, soal cuaca wilayah Kota Ternate ketika curah hujan yang tinggi sangat berpotensi terjadi tanah longsor seperti sebagian rumah warga berpemukiman di daerah kemiringan di bawah lereng gunung Gamalama. Menurut dia, tingkat kemiringan ini kemungkinan diatas 45 derajat sehingga kawasan itu sewaktu-waktu berpotensi terjadi longsor.

” Jadi kita hanya bisa menghimbau kepada masyarakat, apabila curah hujang meningkat, mungkin masyarakat sudah harus waspada terutama di daerah rawan longsor. Contohnya seperti beberapa kejadian kemarin seperti di Rua dan Ngade saat kami turun dan melihat langsung di lapangan,” kata Iksan kepada jurnalis borero.id, Jumat (23/6/2023).

“Kami pemerintah tidak bisa melarang masyarakat untuk membangun rumah dimana saja karena ketersediaan lahan di kota Ternate terbatas yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk  semakin bertambah baik dari imigrasi maupun lainnya sehingga mau tidak mau seperti itu,”tambahnya.

Kendati, dirinya kembali menghimbau jika masyarakat dengan terpaksa membangun di daerah-daerah rawan longsor, maka paling tidak konstruksi bangunan harus disesuaikan sehingga bisa mengurangi potensi terkena lonsor. Sebab, kejadian di Kelurahan Rua, kemarin itu disebabkan konstruksi bangunana rumah minim. Maka saat terjadi longsor sedikit saja, rumah langsung ikutan retak. ” Sama halnya di ngade,  kami  langsung buat papan himbauan apabila terjadi curah hujan yang tinggi, masyarakat dilarang beraktivitas di kawasan itu. Kami juga berharap kepada warga  yang belum membangun rumah jangan lagi membangun mengingat tebing tinggi dan dekat dengan jurang,” katanya.

Untuk itu, langkah antisipasi diambil BPBD Kota Ternate  bagi daerah bertebing atau kemiringan akan dilakukan dengan menanamkan pohon pada lokasi tersebut.  Kemudian antisipasi  ketika curah hujan yang tinggi berpotensi sering terjadi pohon tumbang. ” Sehingga ada pohon-pohon sudah harus dipangkas, ya dipangkas sebelum terjadinya tumbang dan menimbulkan korban jiwa,”kata Iksan.

Ia juga menambahkan, BPBD Kota Ternate sudah bersinergi dengan TNI- Polri dan Pemerintah Provinsi saat dilakukan rapat kemarin. Rapat ini membahas  terkait dengan penanggulangan bencana daerah. ” Jadi  kami sangat berharap kepada masyarakat turut membantu dengan lebih berikhtiar untuk menghindari potensi bencana sewaktu-waktu terjadi,”harap Muhammad Iksan Hamsa. (*)

Penulis : Iin afriyanti hasan
Editor : Sandin Ar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *