TIDORE  

Banyak Pria di Tidore Terinfeksi HIV, DPRD: Ini Problem Serius

Ketua Komisi III DPRD Kota Tidore Kepulauan, Ardiansyah Fauji

BORERO.ID – Catatan Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan sejak Januari hingga Juni 2025, sebanyak 13 orang terinfeksi penyakit HIV. Catatan ini menarik perhatian para anggota DPRD Kota Tidore Kepulauan.

Ketua Komisi III DPRD Kota Tidore Kepulauan, Ardiansyah Fauji mengatakan, temuan 13 pengidap penyakit HIV dari Dinkes Kota Tidore itu merupakan angka temuan yang sangat mengkhawatirkan.

“Ini problem serius, jadi dinas kesehatan tidak boleh lengah, 13 kasus baru di tahun 2025 ini termasuk angka yang cukup menghawatirkan dan meresahkan kita semua,” Kata Ardiansyah, Jumat 13 Juni 2025.

Ia menuturkan, berdasarkan data dari Dinkes Kota Tidore sejak tahun 2018 hingga Juni 2025 tercatat sudah sebanyak 110 kasus orang pengidap penyakit HIV/AIDS (ODHA) dan angka tersebut paling didominasi kaum pria.

“Kami mendesak lebih banyak lagi melakukan edukasi yang komprehensif dan konsisten untuk mencegah angka penularan yang semakin tinggi,” Ucap Ardiansyah.

Selain itu lanjut legislator PDIP itu, edukasi yang dilakukan juga perlu melibatkan berbagai pihak terkait bukan hanya Dinkes saja, Karena edukasi menjadi kunci utama dalam menekan angka penularan HIV.

 “Edukasi yang tepat dan jelas mengenai HIV harus disebarluaskan secara masif kepada masyarakat. Terutama generasi muda dalam hal ini pelajar dan mahasiswa yang rentan terhadap perilaku berisiko agar lebih waspada terhadap penularan penyakit itu,” Ujarnya

“Puskesmas maupun dinas kesehatan juga penting melakukan skrining kesehatan yang intens ke populasi kunci maupun rentan, sehingga dapat mencegah agar angka ini tidak semakin meningkat,” Sambung Ardiansyah.

Menurutnya skrining kesehatan, selain diwajibkan untuk calon pengantin, Ardiansyah juga mendesak agar Dinkes maupun puskesmas melakukan skrining kesehatan bagi masyarakat Kota Tidore Kepulauan yang bekerja di perusahaan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah. Sebab, Halmahera Tengah salah satu kabupaten dengan prevelensi kasus HIV tertinggi di Maluku Utara saat ini.

“Pada prinsipnya skrining kesehatan adalah upaya untuk lebih dini mengindentifikasi suatu penyakit sebelum terlihat gejalanya, jadi jika diperlukan untuk upaya pencegahan maka tidak menutup kemungkinan untuk melakukan skrining pada siapa saja, baik calon pengantin, para pekerja di IWIP dan di perusahan manapun,” Tuturnya.

Baca juga : Gegara Seks Bebas, Puluhan Pria di Tidore Terinfeksi HIV

Selaku Ketua Komisi III yang menjadi mitra Dinkes, pihaknya berencana dalam waktu dekat akan memanggil Dinkes, serta puskesmas yang menjadi unjuk tombak masyarakat di desa dan kelurahan guna membahas persoalan penularan HIV tersebut.

“Insha Allah dalam waktu dekat kami akan memanggil pihak-pihak terkait untuk mengkonfirmasi terkait persoalan tersebut agar secepatnya bisa mengambil langkah-langkah preventif demi kebaikan bersama,” terangnya.

Ia mengimbau, masyarakat Tidore diharapkan memiliki kesadaran tinggi menjaga diri masing-masing dari penularan HIV. Seperti halnya, tidak gonta-ganti pasangan, menggunakan alat kontrasepsi, dan tidak melakukan aktivitas seksual yang menyimpang.

“Bukannya adagium kesehatan, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk itu masyarakat diharapkan untuk selalu waspada, saling menjaga satu sama lain, setia pada pasangan adalah kuncinnya guna mencegah penyebaran HIV yang lebih luas,” Tutupnya. ***

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *