TIDORE  

Gegara Seks Bebas, Puluhan Pria di Tidore Terinfeksi HIV

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan, Saiful Salim.

BORERO.ID – Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepualauan mencatat periode Januari hingga Juni 2025 sudah ditemukan 13 orang terinfeksi atau pengidap penyakit Human Immunodeficiency Virus alias HIV.

Hal itu disampaikan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan, Saiful Salim saat disambangi media ini di ruang kerjanya, rabu 11 Juni 2025 kemarin.

Saiful mengatakan, dengan tambahan 13 kasus baru tersebut, saat ini tercatat sudah sebanyak 110 kasus Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang ditemukan di Kota Tidore Kepulauan.

Angka itu terhitung sejak tahun 2018 sebanyak 7 kasus, 2019 sebanyak 9 kasus, 2020 sebanyak 11 kasus, 2021 sebanyak 7 kasus, 2022 sebanyak 18 kasus, 2023 sebanyak 16 kasus, 2024 sebanyak 29 kasus. Angka tersebut paling didominasi oleh laki-laki.

“Serta ditambah dengan 13 orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan ini, jadi total sebanyak 110 kasus. Kasus ini paling banyak didominasi oleh laki-laki. Kebanyakan penyebab ini istilahnya suka jajan diluar,” katanya

Saiful mengaku, pemicu HIV tersebut disebabkan berbagai faktor seperti seks bebas dan perilaku seksual menyimpang atau hubungan badan sesama jenis jadi infeksi menular seksual (IMS).

“Selain itu faktor lain seperti hubungan seksual tanpa kondom, sipilis, termasuk penggunaan jarum suntik bersamaan, serta transfusi darah, itu yang merupakan faktor penyebabnya,” terang Saiful.

Saiful menyampaikan para pengidap HIV tersebut telah dilakukan pemantauan rutin dan pemberian obat-obatan secara teratur oleh pihak puskesmas maupun rumah sakit agar virusnya terkontrol.

“Untuk pengobatan ini kami menggunakan obat antiretroviral (ARV). Tujuan dari pengobatan itu adalah untuk memperlambat perkembangan virus, mengurangi virus, dan meningkatkan kualitas hidup, jadi ini tidak dapat sampai penyembuhan total. ARV ini tidak bisa menyembuhkan HIV secara utuh, tetapi obat ini dapat membantu pasien dapat hidup lebih lama dan lebih sehat,” Ujarnya.

Untuk mengantisipasi meningkatnya angka kasus HIV di Kota Tidore Kepulauan, Dinas Kesehatan beserta puskesmas akan menggencarkan skrining kesehatan. skrining kesehatan tersebut merupakan bagian dari program rutin Dinas Kesehatan, namun intensitasnya ditingkatkan setelah ditemukan kasus baru tersebut.

“Untuk mengantisipasi hal itu, makanya setiap 6 bulan dalam setahun kami intens melakukan pemeriksaan atau skrining. Melalui skrining ini kami berharap bisa mendeteksi kasus sedini mungkin, sehingga penularan dapat dicegah dan pengobatan bisa segera diberikan,” katanya.

Selain itu kata Saiful, 10 puskesmas di Kota Tidore Kepulauan telah ada pelayanan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) pasien human immunodeficiency virus / accquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS), dengan adanya pelayanan itu masyarakat bisa melakukan pemeriksaan sekaligus pengobatan HIV tanpa harus ke rumah sakit.

“Untuk 10 puskesmas saat ini sudah sediakan pelayanan PDP itu, termasuk dengan rumah sakit. Jadi tergantung si pasien pemeriksaan atau ambil obatnya di puskesmas atau bisa ambil di rumah sakit,” ungkap Saiful.

Ia menuturkan, saat ini langkah pencegahan yang dilakukan pihaknya lewat puskesmas melalui skrining kesehatan itu menyasar ke populasi penderita HIV.

“Jadi populasi ini ada dua, populasi kunci dan rentan. Populasi kunci itu seperti lelaki suka lelaki, warga binaan di rutan, pekerja wanita di tempat hiburan malam. Sementara populasi rentan itu seperti ibu hamil, wanita remaja, anak jalanan, maupun penyandang disabilitas,” kata Saiful.

Menurutnya peningkatan kasus ini menjadi alarm bagi Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan untuk lebih aktif dalam edukasi serta deteksi dini.

Pasalnya lanjut Saiful, Kota Tidore Kepulauan sendiri berada di tengah-tengah dua Kabupaten/Kota yang memiliki prevelensi kasus HIV/Aids tertinggi diantaranya Kota Ternate dan Halmahera Tengah.

“Makanya skrining kesehatan ini kami lakukan untuk menyasar populasi kunci tadi seperti pekerja seks komersial atau PSK di tempat hiburan malam, guna memutus penularan penyakit tersebut. Untuk tempat hiburan malam di Oba Utara ini kami intens melakukan skrining kesehatan,” tandasnya.

Selain itu pihaknya mengimbau masyarakat memiliki kesadaran tinggi menjaga diri masing-masing dari penularan HIV, terutama kalangan remaja atau belum menikah, agar menjauhi pergaulan bebas, seperti seks bebas.

Sedangkan bagi yang sudah menikah terutama laki-laki, juga diimbau tidak gonta-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual.

“Pencegahan itu lebih utama. Makanya disaat melakukan skrining kesehatan, kami juga memberikan edukasi serta himbauan untuk mengajak masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan dan tidak takut menjalani pengobatan jika memang terdeteksi HIV,” imbuh Saiful.

Sekedar diketahui, HIV merupakan infeksi virus seumur hidup yang tidak bisa disembuhkan dengan pengobatan yang ada saat ini, melainkan hanya bisa kendalikan dengan konsumsi obat-obatan secara rutin. ***

Penulis: Airin***Editor: Redaksi
\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *