Penulis : Mursal Bahtiar
(Jurnalis borero.id & penggiat olahraga)
Usia memang mempengaruhi segalanya. Sepak bola sudah mendara daging dalam diri saya. Walau sering sakit, kalau ingat kenangan waktu bermain membuat saya kadang tersenyum sendiri. Banyak hal terjadi disana.
Hari itu saya bertemu Nurdin dikerumanan penonton memadati tribun utama stadion GBK Bacan Halmahera Selatan saat pertandingan pra liga 3 antar Persihalsel vs Persiter Ternate. Hampir saja saya tak sampai mengenalnya, karena belasan tahun tidak lagi pernah bertemu. Namun dengan senyum Nurdin yang khas, dia menyapa pelan menanyakan kabar pada saya.
“Bagaimana kabar saudaraku? Alhamdulillah baik, hampir saja saya tak mengenalmu kak Nurdin” kata saya. ” Iya! sudah lama kita tak bertemu, wajar saja kamu hampir tak kenal saya” sambung Nurdin. Sejak lama tidak bertemu, pertemuan singkat itu menuawai cerita tentang kehidupannya selama menggeluti dunia sepakbola.
Bernama lengkap Nurdin Achmad, lahir di Bobaneigo 24 September 1979 dari pasangan H. Achmad Musa dan Ibu Wa Hernapia Lamboge, Nurdin telah mencintai sepak bola dari usia belia. Awal bertemu dengannya sekitar tahun 2003 dilapangan sepak bola Desa Tomori Bacan. Kala itu, saya bertemu dengan Nurdin dalam lawatan seleksi pemain Persihalsel kalau tidak salah ditangani juru taktik laskar Sibela Persi-Halsel saat itu, Umar Alhadar pada zamannya pernah mengisi lini Persiter Ternate.
Di lapangan Tomori Nurdin sering disapa Ongen kelereng. Sapaan lucu teman sejawatnya sesuai matanya yang bulat menyala mirip gundu mainan para anak kecil. Nurdin juga sering dipanggil dengan panggilan ayah bagi para kawan dibawah usianya. Alasannya, Nurdin sering memberi nasihat tentang ketaatan beribadah dan slalu mengingatkan temannya di lapangan jika waktu sholat telah tiba bak seorang ayah terhadap anaknya.
Dilapangan hijau, Nurdin menempati lini depan. Meski bermain dihampir semua lini namun kecepatan dimilikinya, Nurdin lebih memilih bermain sebagai seorang penyerang sayap. Sesering skil Nurdin mengeluarkan jurus lawaknya dilapangan disaat bertanding. Gaya khas milik Nurdin memang mengundang tawa para penonton saat menyaksikannya membela salah satu tim antar kampung. Selain lihai mencetak gol ke gawang lawan, kadang aksinya membuat penonton melebarkan pipi dan bibir. Nurdin sesekali menarik celana bola hingga sebatas dada, dan berjalan layaknya seorang bencong bagi yang mengenalnya tak akan lupa. Kadang kala skilnya menggertak lawan dengan menendang tumitnya saat menguasai sikulit bundar, dagi Nurdin, itu adalah bagian dari seni dalam menghibur penonton.
“Sepak bola itu seni, kita main bola juga supaya tidak bisa stres. Tapi bagaimana menghibur jutaan mata memandang. Saya melakukan itu karena sejatinya bermain dan menghibur adalah hal baik. Itu membuat orang tertawa,” ungkap Nurdin
Segudang prestasi Nurdin di dunia sepak bola jarang banyak tahu. Bukan jumawa, prestasi Nurdin ternyata bikin geleng kapala. Pamain sering mengenakan nomor punggung 10 ini, terbilang cukup unik. Nurdin ketika bermain memberi nama pada punggung jerseynya dengan sebutan nama untuk Maluku Utara yakni “Kie Raha”. Nama itu melekat erat dipunggung jerseynya, karena Nurdin adalah pesepakbola perantau yang unjuk gigi di Negeri orang.
Karir Sepak Bola Nurdin Achmad
Mengawali karir sepak bola sejak berseragam sekolah menengah pertama, tepatnya di SMP Negeri 4 Kota Ternate Maluku Utara, Nurdin bermain sepak bola sejak tahun 1991. Beberapa tahun belajar di bangku sekolah, Nurdin bergabung bersama tim antar kampung Bastiong Putera pada Tahun 1993 hingga Tahun 2000. Dari pengalamannya itu, Nurdin akhirnya dipanggil salah satu tim liga 3 Persi-Halsel pada Tahun 2003/2004.
Bukan hanya itu, selain Persihalsel, Nurdin juga adalah eks penyerang Solimongo tim kebanggan orang Makian. Sederet prestasi sepak bola Nurdin lainya adalah pernah bermain untuk Bank Sumsel, PS Palembang, PS Banyuasin, menjadi top scorer 14 gol di Gurubati Open Turnament Tidore tahun 2007. Dan setelah itu, Nurdin masih belum puas. Ia beranjak ke ibu kota dan mencoba mencicipi panasnya persaingan di Indonesia Super league. Beberapa tim yang menjadi target Nurdin waktu itu yakni Madiun Putera, PSIS Semarang, Deltras Sidoarjo, dan Nurdin akhirnya berlabu ke Persipon Pontianak atas andil legenda Timnas Indonesia Feri Sandria di tahun 2010 hingga 2011.
Setelahnya, Nurdin dengan usia yang tak lagi muda, harus menjalani kehidupan menghidupi sanak keluarga istri dan anaknya. Usai menjajal keberuntungan di lapangan hijau, Nurdin kini telah bekerja sebagai pengamanan disalah satu Bank di Ibu Kota. Walau tak lagi bisa bermain seperti sedia kala, Nurdin di ketahui sudah mengantongi sertifikat lisensi kepelatihan sepak bola dan memanfaatkannya untuk melatih prifat diluar jam kerjanya sebagai pengaman Bank.
“Usia memang mempengaruhi segalanya. Sepak bola sudah mendara daging dalam diri saya. Walau sering sakit, kalau ingat kenangan waktu bermain membuat saya kadang tersenyum sendiri. Banyak hal terjadi disana” Nurdin bercerita.
Ditanya soal sakitnya, Nurdin enggan membeberkan diagnosa yang diberikan dokter padanya. Nurdin lebih memilih bercerita tentang kisah hidupnya dan hendak memberi pesan pribadinya.
“Soal sakit itu barangkali sebagai penghapus dosa. Yang terpenting sekarang ini membina para generasi sepak bola agar tetap berkarakter dan bernilai ibadah. Para pelatih tak hanya melatih tentang bagaimana mengontrol dan memberi umpan bagus. lebihnya harus tanamkan rasa mencintai budaya sendiri. Pastinya harus ada muatan iman dan takwa agar kedepan pesepak bola kita punya modal agama, dan rasa menghargai sesama semakin tinggi,” pesan Nurdin pada Jum’at kemarin melalu via WhatsApp.


