TIDORE  

Pendiri dJAMAN Minta Kesultanan Tidore Lebih Tegas dan Keres Terhadap Investasi Tambang

BORERO.ID,- Pembukaan kongres ke XIII dJaringan Mahasiswa Nuku (dJAMAN) Maluku Utara sekaligus pembentukan Forum Alumni Ternate dengan Mengusung tema Rekonstruksi Solidaritas Wujudkan Pemimpin Revolusioner, yang resmi dibuka Staf Ahli Walikota Bidang Kemasyarakan dan Sumber Daya Manusia Marwan Polisiri di aula SMA Negeri 1 Tidore, Kamis (28/1).

yang di hadiri oleh para pendiri dJAMAN diantaranya, Abdul Kader Din, Nyong Alkatiri, Mohdar Adam, Abubakar Nurdin, Jamaluddin Ansar, Abdurrahim Saraha, Awaluddin Karim.

Dalam sambutannya Abdurrahim Saraha yang mewakil para pendiri dJAMAN menyampaikan bahwa, berdasarkan berbagai informasi yang beredar secara terbatas, termasuk kunjungan DPRD Kota Tidore Kepulauan ke Halmahera Timur dan Halmahera Tengah yang banyak berkonsultasi menyerap data tentang situasi investasi tambang dikedua daerah itu.

karena dalam waktu dekat nanti PT. SANATOFA pemilik izin eksplorasi tambang di Paceda Kecamatan Oba Tengah akan melanjutkan kembali aktivas mereka yang sempat terhenti.

“Saya termasuk orang yang bukan anti tambang, tetapi berdasarkan pengalaman banyak daerah tambang di Indonesia khususnya Maluku Utara yang selalu saja masyarakat menjadi pihak yang “kalah” termasuk salah satunya kawasan sekitar tambang yang penanganan Corporate Social Responsibility CSRnya banyak sebatas menggugurkan kewajiban bahkan lainnya nanti diminta berulang ulang baru dipenuhi sebagian, maka kepada pengurus dJAMAN yang nanti terpilih dalam kongres ini harus lebih fokus mendiskusikan dan mengawal hal ini.

Abdurrahim Saraha melanjutkan “Sekali lagi saya tidak anti tambang tetapi pemerintah Kota Tidore harus jelas tegas dan keras kepada investor soal amdal, bagaimana nanti komposisi tenaga kerja skill maupun non skill, tanggungjawab sosialnya dan berbagai dampak dan prospek perkembangan investasi yang sama sama berfaedah untuk masyarakat maupun investor itu sendiri. Jika tidak tegas dan keras maka rakyatlah yang kembali akan menjadi “korban’ investasi. Kita sebut saja contoh bagaimana Bupati Halmahera Utara Frans Manery harus tidur didepan kantor NHM untuk mendukung tuntutan warganya, ini saja sudah bisa menggambarkan betapa rendah, lemahnya posisi tawar pemerintah dimata investor. ‘ungkap Kaka sapaannya.

Lebih jauh lelaki murah senyum yang pernah jadi Calon Wakil Walikota Tidore Kepulauan di tahun 2015 itu mengatakan bahwa untuk Kota Tidore Kepulauan ini menjadi sesuatu yang unik dan agak berbeda karena disini kekuatan lembaga formal kulturalnya masih sangat kuat dihormati dan dipatuhi.

Kesultanan Tidore harus mengambil tanggunggjawab juga lebih tegas dan keras dalam menghadapi lanjutan aktivitas tambang PT. Sanatofa. Pemerintah Kota, stake holder dan Kesultanan Tidore sebagai benteng kultural harus bersama sama dalam situasi ini, saatnya berkolaborasi untuk Kota ini, sehingga dampak investasi tambang itu menjadi sesuatu yang berfaedah untuk kemaslahatan rakyat.

Sementara itu Jojau Kesultanan Tidore M Amien Faroek diakhir sambutannya juga menyinggung tentang rencana kembalinya PT. Sanatofa.

“Saya ini sudah diundang maupun didatangi beberapa pihak berdiskusi tentang inevstasi tambang di Paaceda ini, mereka banyak bertanya soal bagaimana tentang tanah adat kesultanan dan peran kesultanan. Tetapi pada prinsipnya saya setujua apa yang disampaikan Pendiri djaman Abdurrahim Saraha, kita harus bersinergi, saatnya berkolaborasi untuk kemajuan dan kemaslahatan kota tercinta ini” pungkasnya.

Kegiatan Kongres ke XII djaman ini di tutup dengan sajian berbagai tarian dan pembacaan puisi.(Lee)

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *