BORERO.ID TERNATE – Tradisi bakar obor atau ela-ela ditandai dengan pembakaran obor utama oleh Sultan Ternate ke-49 Hidayatullah Sjah, Imam besar Masjid Sigi Lamo atau masjid besar Kesultanan H. Hidayatulssalam Sechan dan Wali Kota Ternate, Tauhid Soleman di depan Kadaton Kesultanan, Kamis (28/4/2022) malam.
Usai membakar obor utama, Sultan beserta perangkan adat kembali untuk selanjutnya mempersiapkan tandu mengarak Sultan menuju masjid Kesultanan. Hal ini menandakan kebesaran dan kemuliaan siar Islam, dimana Sultan menggunakan jubah dan imama yang merupakan peninggalanan Sultan-Sultan terdahulu.
Sultan yang di jinjing atau diarak oleh balakusu sekano-kano menuju masjid Kesultanan untuk menunaikan ibadah shalat Isya dan dan taraweh itu, disambut hikmat oleh ratusan masyarakat Ternate sepanjang perjalanan menuju masjid kesultanan. Uniknya, dalam malam tradisi Ela-ela malam menyambut lailatul Qadar ini, damar dan obor dibawakan oleh abdi dalam atau balakusu sakano-kano dilakukan oleh perangkat adat yang beragama Nasrani. Keragaman ini menandakan tolerasi yang kuat dibabawah naungan kesultanan Ternate.
“Dengan ritual atau tradisi Ela-ela ini, kita akan dipertemukan dengan Ramadan yang akan datang, kita tidak tergolong orang-orang yang merugi. Di dalam Ela-ela ini juga tradisi warga Kesultanan yang berahama Nasrani juga hadir untuk membawakan damar, membawakan obor membantu dalam tradiai ini. Ini menandakan ikatan hubungan kuat, toleransi, silaturahim bagi masyarakat yang berbeda agama, berbeda suku dibawa naungan Kesultanan Ternate, dan ini sudah berlansung leama berabad-abad. Insya Allah akan tetap kami lestariskan,” jelas H. Hidayatulssalam Sechan, jou kalem.
Malm Ela-ela terakhir kali digelar pada masa mendiang Almarhum Mundaffar Sjah, Sultan Ternate ke-48, atau vakum 7 tahun lamanya. “Sudah 7 tahun tradisi ini terputus dan Alhamdulillah pada malam ini dengan bertahtahnya Sultan hidayatullah Sjah, tradisi ini Kolano Uci Sabea kembali dilaksanakan,” ucapnya. (Red)


