BORERO.ID TERNATE – Kegiatan Sosiologi Festival atau disingkat SocFest II merupakan kelanjutan dari SocFest I yang pernah digelar pada Tahun sebelumnya di benteng orange Kota Ternate. Kegiatan mahasiswa bersama alumni Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) yang kedua ini direncanakan pertengahan bulan Juli 2022 ini siap digelar. Bertema,” Sosiologi Kepuluan Halmahera,” bakal mewarnai dinamikia Maluku Utara.
Ketua Program Studi (Prodi) Sosiologi UMMU, Amrul Djanna, menyatakan gagasan SocFest sebenarnya mulai tercetus sejak Tahun 2015 oleh dosen-dosen Sosiologi sebagai pemaknaan atas dibukanya Prodi Sosiologi 10 Juni 2003. Lambat laun dalam perjalanan hingga memasuki usia ke-19 Tahun, perkembangan Prodi Sosiologi UMMU belum banyak memberi sumbangsih yang berarti bagi Masyarakat Maluku Utara. “Karena itu dengan momentum SocFest II ini kita berharap dapat memberi konstribusi yang berarti bagi masyarakat,” kata Amrul.
Menurut ketua Prodi Sosiologi UMMU ini kehadiran SocFest II juga bagian dari memperkenalkan Sosiologi pada publik secara luas. Selain itu, SocFest juga merupakan sarana edukasi guna menguatkan imajinasi mahasiswa, alumni, dosen, maupun pemerhati sosial. ” Kegiatan SocFest ke-II ini diharapkan dapat merawat cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku dalam bingkai kebersamaan dalam bermasyarakat khususnya di Maluku Utara,” jelasnya.
Alumni Sosiologi UMMU, Sarfan Tidore, menambahkan SocFest II bukan sekedar ivent diskusi-diskusi seperti kegiatan kemahasiswaan pada umumnya. Tetapi ini bagian penting keberpihakan secara kultural didalam pembacaan sosiologis masyarakat kepulauan. ” Kita perlu menegaskan identitas kita dengan dasar kekayaan pengetahuan lokal di negeri ini. Melalui rangkaian kegiatan SocFest, kita ingin mengajak warga maupun pemerintah supaya meletakkan basis kultural kita sebagai dasar kebijakan pembangunan,” ujarnya.
Menurut Sarfan, kompleksitas perubahan saat ini sebetulnya membutuhkan analisis-analisis sosial-budaya sehingga pembangunan masyarakat dikemudian hari mampu diterjemahkan sebagai upaya membangkitkan nilai-nilai lokalitas yang beradab. SocFest juga ingin menegaskan ke pemerintah jika kondisi lingkungan, ekonomi, politik, pendidikan saat ini membutuhkan kajian-kajian sosiologis.
Selain itu, SocFest menyediakan ruang bagi pertumbuhan intelektual dan kreativitas anak-anak negeri dalam wujud lomba menulis dan melukis. Anak-anak SMA harus dibiasakan menulis dan melukis agar mereka harus bebas memahami dunianya sendiri. Nilai kebudayaan menjadi dasar dari seluruh proses pembacaan.
“Kita harus jujur, kalau kita sesungguhnya krisis dalam soal seperti ini. Kita berharap perhelatan SocFest II dapat memberi dampak luas bagi perumusan kebijakan daerah dan dinamisasi masyarakat yang serba kompleks saat ini,” tandas Sarfan. (Red)


