TIDORE  

Tidore Harus Keluar Dari Zona Nyaman dan Aman Untuk Bisa Maju dan Berkembang

BORERO.ID,- BORERO luas wilayah 1.550,37 km² nyatanya Kota Tidore Kepulauan (Tikep) masihlah sebuah kota yang statis. Lapangan pekerjaan yang minim dan kerap membuka diri untuk pendatang, tetapi pribumi urung berkembang. Anak-anak muda dikirimkam ke luar kota untuk mengenyam sekolah kemudian pulang dengan tangan hampa karean ruang bergerak, ruang berkembang, atau ruang berkreativitas cenderung dikekang. Akhirnya, banyak dari mereka yang rela mengambil konsekuensi dengan memilih untuk berpindah penduduk ke pulau seberang, mengorbankan mimpi, bahkan bakat untuk tetap survive.

Problem utamanya karena layanan masyarakat yang kaku dan pemerintahan yang kurang inovasi dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Hal ini memiliki pengaruh yang signifikan. Sebab Kota Tikep tak mempunyai kekayaan alam yang melimpah lagi untuk dimanfaatkan sebagai pendapatan. Hal tersebut sejalan dengan rasionalisasi dari Ishak Naser.

“Kota Tidore sudah kekurangan sumber daya alam. Karena itu yang bisa kita lakukan ke depan adalah meningkatkan SDMnya melalui pendidikan gratis dan layanan kesehatan gratis (BPJS).”

Menurut hemat beliau, dengan adanya beasiswa dan BPJS gratis, SDM di kota Tikep dapat berkembang karena orang tua tidak perlu memikirkan lagi biaya pendidikan dan biaya kesehatan. Sehingga mereka dapat fokus bekerja dan anak tetap dapat fokus dalam belajar. Penawaran solusi yang relevan dalam mendorong perkembangan perekonomian kota Tikep. Dengan adanya SDM yang unggul, maka lapangan pekerjaan akan tumbuh seiring berjalannya zaman sehingga tingkat pengangguran pun bakal menurun.

Pendidikan dan kesehatan merupakan jalan paling menguntungkan untuk menyelamatkan kota Tikep yang statis dari cengkeraman zaman agar menjadi dinamis. Mampu bersaing dengan Kota tetangga dari segi pembangunan maupun ekonomi. Hal ini berdasar pada visi-misi paslon Basri Salama dan Ustad Guntur (BAGUS) yang dengan akuntabel melihat problem tepat pada sasarannya. Kedua pasangan ini, sebaik-baiknya pilihan dalam tahun paceklik di hajatan demokrasi daerah.

Memiliki latar belakang yang teruji secara teoretis dan praktis, paslon BAGUS layak dipercaya untuk memimpin Kota Tikep. Keseriusan dalam berkampanye serta pandai dalam menempatkan diri di ranah resmi maupun tidak resmi, menunjukkan keduanya sebagai orang yang berpendidikan. Sebab dalam memimpin suatu kaum, paling tidak pemimpinnya perlu memiliki ilmu atau kecerdasan supaya dalam bahtera kepemimpinannya tidak gentar, tidak tenggelam, serta tidak ada yang terempas dalam badai pun gelombang yang datang menghadang.

Oleh karena itu, di sisa hujan pada malam yang berbintang, di Tomalou (30/11) yang padat dalam kerumun, juga antusias yang tinggi, Ishak Naser berkata.

“Masyarakat Tomalou tidak akan berpisah dengan saya, Karena kita satu dalam pilihan.”

Dua kalimat yang hangat tersebut mengartikan bahwa bersama BAGUS masyarakat Tomalou khususnya dan Tidore umumnya telah terikat dengan beliau. Kemudian beliau melanjutkan,

“Pombo tidak pernah bafoya, merpati tidak pernah ingkar janji.”

Perumpamaan tersebut memiliki arti yang subtil dan membuat tersentuh, yaitu menepati janji serta tidak sekadar omong doang. Tapi dipertanggungjawabkan dengan konkret. Karena yang hanya janji memang banyak, tetapi yang menepati hanya sedikit. Salah satunya adalah paslon BAGUS. Bersama BAGUS, setidaknya, membuat kita berani dalam memilih untuk menjadikan Tidore yang berbeda, yang berdaya saing dan kreatif di segala bidang, serta berani keluar dari sangkarnya yang nyaman dan terlalu aman yang selama ini tampak melindungi, tapi sebenarnya mengurung dalam jeruji.(Lee)

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *