BORERO.ID TIDORE – Kondisi bangsa saat ini membutuhkan aktualisasi nilai-nilai empat pilar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pemahaman terhadap Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika tidak pada aspek simbol semata, melainkan bagaimana nilai empat pilar ini menjadi jiwa dan spirit masyarakat dan generasi muda membangun Daerah dan Negara.
Demikian disampaikan Husain Alting Sjah utusan DPD RI, saat sekian kali menggelar sosialisasi empat pilar dipusatkan di Pondopo Kesultanan Tidore, Kota Tidore Kepuluan, Sabtu (19/3/2022). Turut hadir sejumlah Tokoh masyarakat yang merupakan perwakilan dari beberapa Kampung/Kelurahan di kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan.
Menurut Husain, sosialisasi empat pilar ini menjadi kewajiban anggota MPR yang diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2019 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.
” Untuk itu, pada kesempatan ini saya mengajak masyarakat untuk bersama-sama berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait dengan pengalaman empat pilar, melalui kegiatan sosialisasi” ucapnya.
Ia, mengajak peserta yang hadir untuk kembali mendalami sejarah lahirnya Pancasila, UUD I945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar ini merupakan warisan para pendiri bangsa, untuk itu patut diketahui, dipahami dan mengamalkan dalam bentuk sikap dan perilaku. Tiap warga negera berhak mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika.
Diketahui bahwa, nilai-nilai empat pilar, tidak bertentangan dengan adat dan budaya yang dimiliki masyarakat, bahkan saling memperkuat. Terkait nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan kerakyatan serta permusyawaratan. Selain itu, kearifan lokal masyarakat yang selama ini ada, tumbuh dan berkembang dilindungi dalam bingkai empat pilar.
Kesempatan tersebut Husain, menguraikan beberapa konsep nilai dalam Pancasila, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, keadilan dan permusyawaratan telah dipraktekkan oleh para Kolano dan Sultan Tidore. Jauh sebelum kita mengenal konsep Pancasila, dan UUD 1945 para leluhur negeri Tidore telah menjalankan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, tidak ada perbedaan dan kontradiksi antara nilai-nilai empat pilar dengan sejarah dan budaya Tidore.
” Saya mengajak kita semua untuk memadukan dan mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam empat pilar dan adat serta budaya Tidore dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan tempat kerja” ajaknya.
” Terdapat nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Kita semua diajak untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dilarang membuat kekerasan atau menghakimi orang lain. Menghargai sesama manusia menjadi tujuan hidup bersama, artinya kita menerima perbedaan dan mengakui hal itu sebagai rahmat yang membawa kebaikan untuk kita semua,” sambungnya.
Ia, menambahkan memahami sejarah Pancasila, dengan sendirinya kita akan mengenal bagaimana sejarah perjuangan NKRI, dan konsolidasi kekuatan negara pasca kemerdekaan. Kita akan merasakan etos perjuangan yang di miliki para pendiri bangsa, bagaimana penghargaan terhadap perbedaan pendapat dalam perumusan ideologi dasar negara. ” Untuk itu, marilah kita belajar dari mereka, bagaimana keseriusan membangun daerah dan merawat bangsa ini,” jelas Husain menutup pembicaraan.(Red)



