BORERO.ID – Sampah di Kawasan Pasar tradisional Sarimalaha Kota Tidore terlihat mulai menumpuk dan berserakan, akibatnya Pasar Sarimalaha terlihat begitu kotor dan mengganggu penjual sekitar.
Anggota DPRD Kota Tidore, Idham Sabtu angkat bicara menanggapi tumpakan sampah tersebut.
Ia meminta, Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Tidore segera mengambil langkah membereskan tumpukan sampah itu.
“Kota Tidore telah meraih penghargaan adipura sebanyak 10 kali, dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan kategori Kota kecil terbersih di Provinsi Maluku Utara.” Ujarnya
Politisi PDI-P ini juga mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tidore, tidak boleh berdiam diri dan menutup mata akan persoalan sampah yang menumpuk itu.
“Persoalan sampah ini tidak hanya di pulau Tidore, di wilayah oba juga harus diperhatikan secara baik. Jangan nanti tunggu masyarakat mengeluh baru bekerja,” Kesalnya
Ia juga mendesak Walikota dan Wakil Wali Kota untuk segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tidore, yang terkesan menutup mata atas persoalan tersebut.
“Wali Kota dan Wakil sudah harus mengambil langkah tegas untuk melakukan evaluasi terhadap Kepala DLH Kota Tidore, sebab jangan sampai penghargaan Adipura yang dihasilkan Kota Tidore selama ini, bertentangan dengan kondisi yang ada di lapangan,” tandasnya.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tidore, Abdul Muis A. Husein, mengaku terkendala dengan persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasalnya, mobil yang dipakai untuk mengangkut sampah harus menggunakan BBM jenis Dexlite. Sementara untuk saat ini, stok Dexlite belum tersedia.
“Untuk BBM ini kita kerjasama dengan Hj Awat selaku pemilik SPBU, beliau sedang berada di luar daerah sehingga kita kesulitan untuk mengisi BBM jenis Dexlite,” tuturnya.
Kendati demikian, Abdul Muis menegaskan kalau sehari dua, masalah persampahan di lokasi Pasar Sarimalaha sudah bisa dituntaskan. Ia menambahkan, sampah di areal Pasar Sarimalaha, selain berasal dari Pasar tersebut, juga berasal dari sampah masyarakat.
“Insya Allah sehari dua jika BBM sudah ada, maka kami langsung turun melakukan pembersihan,” tegasnya.
Selain terkendela soal BBM, DLH Kota Tidore, juga diganjal oleh persoalan efisiensi anggaran yang membuat sejumlah mobil pengangkut sampah harus diperbaiki, sementara anggaran untuk pemeliharaan mobil tidak tersedia.
“Ada beberapa mobil yang membutuhkan perbaikan, sementara anggaran untuk pemeliharaan juga terbatas, jika kami paksakan, maka tentu harus berhutang,” Pungkasnya. **



