BORERO SPORT— Ingatan Moezakir Dodaraga alias Jeck Toboko begitu tertanam ketika tim Persatuan Sepak Bola Indonesia Ternate atau Persiter Ternate akan berlaga di Stadion Gelora Kie Raha.
Kabar sehari dua tim kabanggaan masyarakat Provinsi Maluku Utara (Malut) itu bakal berlaga, sudah terasa dan penuh antusias dari berbagai dukungan sporter yang bereforia di sudut-sudut seperti Kota Ternate, Provinsi Malut. ” Itu seperti saat Persiter berlaga di divisi utama liga Indonesia tahun 2006. Kalau sudah dekat, antusias sporter mulai terasa di jalan-jalan seperti di kelurahan saya waktu itu Toboko-Kota Baru Ternate dan kelurahan lainya,” katanya membuka cerita kepada media ini, Kamis (12/10/2023).
Moezakir, lantas membandingkan dukungan sporter ke tim kabanggaan asal Provinsi Malut yakni Malut United FC. Ia menilai dukungan sporter Malut United belum terasa secara nyata, bahkan belum membumi di wilayah daerah Malut. ” Dulu dukungan sporter Persiter waktu itu terlihat begitu kuat hingga ke daerah-daerah lain,” ujarnya.
Menurut dia, Malut United merupakan tim sepak bola profesional berjulukan Laskar Kie Raha, saat ini berlaga di Liga 2 Indonesia perlu dibrending oleh pengurus Malut United FC dan harus inkulusif (terbuka). Jangan eksklusif (tertutup), jika membutuhkan sporter militan untuk membumikan Malut United ke daerah Provinsi Malut. Sebab, Malut United menggunakan nama Provinsi tapi dukungan masih sekelas Turnament Antar Kampung (Tarkam).
“Karena menurut saya, pengurus belum mampu membuat brending Malut United bagi masyarakat Malut atau nama Ternate sebagai simbol Provinsi Malut,” kata Jeck Toboko sapaan akrabnya, saat ini membentuk Sporter Laskar Kie Raha.
Jeck mengaku, setelah dirinya mengetahui keberadaan tim Malut United melalui informasi media disambut gembira karena menandakan kebangkitan sepak bola di Provinsi Malut telah ada. Karena sudah lama, pasca tim Persiter Ternate tidak ada lagi klub-klub asal Provinsi Malut berkompetisi di level tertinggi. Akan tetapi, waktu berjalan ia merima informasi bahwa khususnya orang Maluku Utara yang masuk dalam kepengurusan Malut United ketika diberi kepercayaan diduga tidak profesional bekerja karena mementingkan kelompok tertentu. ” Saya baca di media bahwa pemilik klub Malut United itu mengutamakan investasi sosial. Ingin membangun kebersamaan dengan masyarakat dan memajukan sepakbola di maluku utara,” bebernya.
Baca juga : Bermain 10 Pemain, Malut United Menang 2-1
Hal tersebut, kata mantan anggota DPRD Kota Ternate ini bisa dilihat dari sejumlah laga telah dimainkan Malut United tapi dukungan warga Malut secara nyata masih sepi. Yang ada, sambung Jeck, eforia suporter hanya terlihat di media sosial dalam setiap laga yang relatif biasa-biasa saja. ” Fenomena ini menunjukan Malut United yang dikelola pengurus saat ini bersifat eksklusif, dan mementingkan kelompok tertentu, padahal sepak bola adalah olahraga bagian dari hiburan masyarkat,” ungkapnya.
Olehnya itu, ia menaruh harapan besar kepada pengurus Malut United agar inklusif atau membuka diri kepada masyarakat terutama ke komunitas-komunitas yang membentuk sporter Malut United saat ini. ” Supaya apa, Malut United bisa membumi ke seluru pelosok daerah Malut. Kerena kami juga merasa memiliki Malut United sebagai salah satu tim kebanggaan perwakilan daerah yang berlaga di liga 2 Indonesia,” tandas Jeck. (*)
Penulis* : dnx
Editor : Sandin Ar

