BORERO.ID TERNATE – Proyek jembatan Ake Tiabo, di Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara (Halut) milik Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah I Maluku Utara (Malut) hingga sejauh ini baru mencapai 12 persen pekerjaan, dan masuk dalam paket kritis.
Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Wilayah I BPJN Malut, Chandrasyah Parmance, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya mengatakan, progres pekerjaan proyek jembatan Ake Tiabo baru mencapai 12 persen, sehingga proyek tersebut masuk dalam ketegori paket kritis. “Intinya paket Ake Tiabo ini sejak saya sertijab memang saya lihat masih belum baik, progres baru sekitar 12 persen. Sehingga saat saya cek masih masuk paket kritis,” ujarnya.
Menurutnya, paket kritis memiliki tiga tingkatan yakni paket kritis ke satu, kedua dan ketiga. Untuk kritis satu lanjut dia, PKK telah melakukan uji coba kontrak kritis tahap satu namun hasil uji coba gagal. “Kemudian dimasa saya ini paket kritis tingkat dua, ini sekarang kita lagi uji coba dan sudah melakukan rapat dengan memanggil penyedia, konsultan dan PPK nya. Karena uji coba pertama gagal dan lanjut ke tahap dua paling lama sebulan. Kita tetap monitor,” jelasnya.
Ia menegaskan, jika hasil uji coba tahap dua masih gagal akan dilanjutkan uji coba tahap tiga. “Jadi uji coba ketiga itu di Kepala Balai, jika hasil uji coba tahap tiga juga gagal langsung dilakukan pemutusan kontrak bahkan bisa black list perusahan,” tuturnya. Lanjut Chandra, jika terjadi pemutusan kontrak dengan pihak ketiga (perusahan) yang mengerjakan proyek tersebut, akan dialihkan pekerjaan ke pihak ketiga cadangan.
”Kalau misalanya kita masih ada waktu dan dananya masih ada, kita akan arahkan cadangannya. Karena dulu waktu nawar ada cadangan yang urutan dua, tiga dan empat. Jadi pekerjaan tetap lanjut karena pelaksananya diganti sesuai dengan kemarin yang dimenangkan BP2JK, karena ada beberapan urutan yang dimenangkan itu,” imbuhnya.
Ia menduga, terlambatnya proses pekerjaan jembatan lantaran pihak perusahan tidak optimal memobilisasi alat, sehingga pekerjaan terhambat. “Memang kalau matrial sudah di produksi, rangka baja sudah di Jakarta dan kita akan cek. Kalau matrialnya sudah oke langsung dikirim dilokasi dan kalau untuk pancang sepertinya sudah dilokasi,” terangnya.
Ia menambahkan, pihaknya berharap pekerjaan jembatan Ake Tiabo harus selesai dikerjakan, sehingga masyarakat bisa menggunakan jembatan tersebut. “Harapan saya jembatan disana tidak bisa gagal, agar masyarakat bisa mafaatkannya,” tutupnya.
Diketahui bahwa proyek jembatan Ake Tiabo senilai Rp. 16.954.469.800.00 dengan total pagu Rp. 20. 435.960.000.00 bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ditandatangani kontrak sejak 21 Februari 2022, namun hingga Juli 2022 progres pekerjaan masih minim. Dikerjakan oleh PT. victory Sinergi Prakasa dengan nomor kontrak HK.02.03/498678/PPK.1.1/2022/PKT-02, hingga kini matrial berupa rangka baja belum berada di lokasi pekerjaan. (Red/Dv)



