BORERO.ID, TIDORE – Pernyataan Syamsul Risal saat bersilaturahmi di salah satu kelurahan yang berbau Rasis mendapat sorotan dari berbagai kalangan salah satunya dari wakil Walikota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen.
Dirinya mengutuk keras penyampaian Samsul mengandung rasisme, karena ingin memecah belah persatuan masyarakat Oba.
” Sebagai Wakil Kepala Daerah saya tidak terima jika warga saya dihina, dan saya juga menyesalkan sikap yang ditunjukan Syamsul Risal melalui pernyatannya kepada Warga Oba dan Suku Sanger seperti itu,” ujar wawali.
Dirinya menyayangkan sebagai tokoh politik, Syamsul tidak harus menjatuhkan atau menghina golongan tertentu yang telah berkecimpun di Kota Tidore Kepulauan, sebab siapapun mereka, jika sudah berdomisili di Tidore, maka itu sudah menjadi bagian dari Warga Masyarakat Kota Tidore.
“Saya berbicara seperti ini bukan karena persoalan politik, melainkan tanggungjawab saya sebagai Wakil Kepala Daerah, yang berkewajiban melindungi warga saya, jadi kalau ada orang yang datang menghina warga saya, tentu saya juga ikut terluka, karena prinsip saya, lebih baik saya yang dihina daripada Warga saya,” pungkasnya.
Namun karena kita ini bernegara yang dilindungi dengan Undang-Undang, maka setiap persoalan yang terjadi, juga harus diselesaikan dengan aturan. Tidak boleh main hakim sendiri, biarlah pihak kepolisian bekerja sesuai ketentuan yang berlaku.
Meski begitu, Wawali menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat Kota Tidore, terutama warga yang tinggal di daratan Oba, agar tidak mudah terprovokasi dengan pernyataan tersebut, sehingga bisa diselesaikan melalalui jalur hukum. Apalagi, saat ini, yang bersangkutan (Syamsul Risal) telah di laporkan ke pihak Kepolisian Resort Tidore.
Ketua DPD PDIP Provinsi Maluku Utara ini, menegaskan, selama dirinya menjabat sebagai Wakil Walikota Tidore dua Periode, ia sering turun di Wilayah Oba yang terdiri dari empat Kecamatan, itu dikarenakan ia menyadari benar, bahwa sebelumnya Warga Oba, banyak mengeluhkan tentang pelayanan dan disparitats pembangunan. Sehingga membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Daerah.
Selain itu, di wilayah Oba juga memiliki masa kelam akan perang saudara yang telah memakan banyak korban, hanya karena Issue sara. Untuk itu, dirinya bersama Walikota Capt. H. Ali Ibrahim, berkomitmen untuk mendorong semangat persatuan dan kesatuan di tengah-tengah masyarakat dengan berasaskan semangat Pancasila, agar tidak terjadi konflik sosial.
“Bhineka Tunggal Ika adalah perekat kita semua, tanpa harus membedakan Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan. Olehnya itu, tidak pantas bagi siapapun yang datang di Tidore dan merongrong kebersamaan dan semangat persatuan yang telah kita bangun selama ini,” tandasnya.
Kendati demikian, Wawali menghimbau, agar persoalan ini dapat disikapi secara bijak dan arif, tidak perlu saling gontok-gontokan, karena persoalan ini hanya dilakukan oleh oknum tertentu.
“Saya minta warga di oba bisa menahan diri, dan kita percayakan kepada pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini sampai ke tingkat pengadilan, sebagai warga negara yang baik maka kita harus taat hukum, karena tidak ada orang di republik ini yang kebal hukum,” tandasnya.(Red)


