BORERO.ID TIDORE – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku Utara (Malut) melakukan kunjungan kerja ke kadaton Kesultanan Tidore segaligus silaturahmi bersama Sultan Tidore H. Husain Sjah, Senin (8/3/2022)
Dalam kesempatan tersebut, Sultan Tidore menyampaikan apresiasi terhadap kunjungan Komisi II DPRD ke kedaton kesultanan agar adat istiadat perlu disampaikan. Dimana dalam prespektif pemahaman secara umum, orang adat merupakan berada di Kadaton Kesultanan Tidore, sementara diluar bukan dikatakan orang adat. ” Padahal di Maluku Utara setiap anak yang lahir sudah dikatakan sebagai anak adat,” kata Sultan Tidore.
Sultan menuturkan, banyak regulasi yang mengatur tentang hari jadi Desa, hari jadi Tidore dan lainnya. Namun perlu ketahui bahwa adat istiadat adalah salah satu mata rantai yang tak terpisahkan seperti keberadaan orang Buton, Sulawesi, dan sebagianya bagian dari historis masa lalu. Hal ini patut diatur sedemikian rupa dan tidak hanya sekedar dalam bentuk fisik, tetapi dimulai adalah semua orang adalah satu keluarga. ” Adat tidak ditentukan semata-mata hanya memiliki gelar, namun semua anak adalah anak adat,” jelasnya.
Menurut Sultan, semua orang tetua adalah orang adat yang mengakui kepala sukunya, walaupun tidak berpendidikan tinggi tetapi dia mampu bertanggugjawab tentang apa yang berada ditanah. Kita mempunyai Fomanyira, Gimalaha, Kapita, Kepala-kepala Soa dan sebagainya. Untuk itu, tidak ada satu orang Tidore yang tidak terlepas dengan adat istiadat. Sebab semua mempunyai kaitan dengan marga sehingga dibutuhkan pengakuan secara formal saja.
Selain itu, tentang hukum bahwa beberapa tahun lalu dirinnya sempat berdikusi dengan Kopolres dan Kapolda Malut. Soal masalah hukum tidak hanya diselesaikan dengan hukum Negara, tetapi bisa diselesaikan dengan Soa. Hanya saja, kita tidak mempunyai kewenangan, padahal kita mempunyai kearifan lokal sangat kaya. Semua itu, tidak terlepas dari tentang situs sejarah. Kemudian ada beberapa iven budaya penting untuk dipercepat dengan alasan covid-19 yang melulantahkan Indonesia.
” Untuk itu tidak hanya butuh pemerintah setempat, namun ada campur tangan dari pemerintah pusat bersama-sama “Ino rubu-rubu, rame-rame, salah satunya Hari Jadi Tidore, iven Tobo Safar dan lainnya. Kita mesti hadir membekcup Pemerintah daerah. Marilah kita berkolaborasi dalam kebaikan, bahwa siapa yang tinggal didearah ini harus dirawat dan menjaganya,” jelas Sultan Tidore.
Sementara Ketua Komisi II Ishak Naser mengatakan kunjungan tersebut sudah di jadwalkan sejak lama namun kebutulan komisi II juga diundang Panitia FKNT sehingga menggunakan momentum ini sekaligus mengunjungi Kadaton Kesultanan Tidore dan PPI Goto. Ishak mengaku, jika agenda ke kesultanan Tidore untuk membicarakan banyak hal salah satunya Sail Tidore. Hal ini lantaran membuktikan Tidore memiiliki prospek yang baik dari sisi pariwisata. Seperti terdapat atraksi wisata yang baik terkait kunjungan wisatawan domestik maupun internasional, karena salah satu wisata yang memiliki daya tarik paling kuat adalah di Kesultanan Tidore.
Menurut Ishak, Tidore memiliki wisata sejarah selama ini belum terangkat ke permukaan secara baik, sehingga kunjungan ini agar bisa menyerap berbagai masukan. Sebab ada cacatan penting bagi Komisi II sebagaimana disampaikan Sultan Tidore tentang nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat adat Tidore, yaitu Cou Se Kangela. ” Jadi pengabdian yang didasari pada keihklasan yang melahirkan rela berkorban,” katanya.
Ishak menambahkan, untuk menjaga dan merawat nilai-nilai persatuan dan kesatuan kedepan perlu disebarkan secara luas kepada masyarakat Tidore. Bila perlu sosialisasi secara Nasional dalam upaya memperkuat kehidupan dan berkembangsaan sebagai perhatian terhadap kadaton Kesultanan Tidore. ” Tugas Komisi II tentang investasi dan keuangan ini untuk pengembangan masyarakat adat,”tambahnya.
Kota Tidore Kepulauan dengan berbagai objek wisata ini perlu dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi masyarakat, terutama usaha mikro seperti membangun warung makan dan kedai kopi disektor parawisata. “Carilah kedai kopi yang representatif, karena banyak wisata yang memiki daya tarik yang bagus, seperti dibeberapa benteng di sekitar kadato Kesultanan Tidore,”tandas Ishak.
Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Bobato Kesultanan Tidore, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Malut Ishak Naser, Wakil ketua I DPRD Provinsi Maluku Utara Sahril Tahir beserta rombongan sekretariat DPRD Provinsi Malut. (Red/iii)


