Mustafa Ungkap Penyebab Pecat 23 Aparat Desa Waiboga

Penjabat Kepala Desa Waiboga Mustafa Sanipon (Dok : Karno Pora/Borero.id)

BORERO.ID SANANA – Pemecatan secara pihak kepada 23 aparat atau perangkat Desa Waiboga, Kecamatan Sulabesi Tengah, Kabupaten Kepuluan Sula,  menjadi pelomik hingga disingkapi Komisi I DPRD Risyandhi Buamona karena dianggap persolan itu secara serius. Komisi I DPRD bahkan berencana memanggil Kades Waiboga dan Camat beserta unsur pemerintah daerah untuk meminta klarifikasi pemecatan 23 aparat Desa itu.

Meski demikian, penjabat Kepala Desa (Kades) Mustafa Sanipon kepada borero.id mengungkapkan soal pemecatan 23 aparat atau perangkat desa itu yang dilakukan karena ada penyebabnya.

Mustafa menyatakan, persoalan itu dilakukan sesuai dengan aturan, bahkan telah menumpuh jalur koordinasi ke pihak pemerintah Kecamatan, Kepuluan Sula.  Dengan penyebab paling mendasar adalah soal 23 aparat Desa itu karena tidak loyal. “ Dari pertama saya ditugaskan menjadi PJ kades di Desa ini sampe sekarang mereka  tidak loyal kepada saya,  bahkan mereka juga tidak masuk kantor,” ungkap Mustafa saat diwawancarai di kediamanya, Jumat (8/4/2022).

Mustafa menceritakan, setiap pagi jika masuk kantor dirinya harus membuka pintu kantor hingga menjelang sore hari, pintu kantor ditutup oleh dirinya sendiri. Bahkan bendera merah putih untuk dinaikan dijam  kantor tidak ada aparat Desa yang peduli dengan hal tersebut.  “ Mereka lebih dengar sekertaris Desa dibandingkan dengan saya.”. ungkapnya lagi. Selain itu, dirinya pernah memerintahkan kepada Sekretaris Desa segera mengambil aset- aset Desa seperti leptop dan printer untuk dibawakan ke kantor Desa agar mempermudah pekerjaan di jam kantor namun tidak dihiraukan.

Menurut Mustafa, sejak bertugas kurang lebih dua bulan tidak ada staf bawahan yang duduk sama- sama dengan dirinya untuk bertukar pendapat soal melihat Desa kedepan. Parahnya diantara 23 aparat Desa itu bahkan dengan sengaja menjebak diriinya untuk dimusukan dalam daftar nama penerima BLT Desa. “Mereka juga sempat ingin menggagalkan kegiatan festival Tanjung Waka.  Yang itu Desa Waiboga sala satu Desa persinggahan para tamu kegiatan festival pada waktu itu,” katanya.

Mustafa menambahkan,  hampir semua hal di kantor dihendel  dirinya karena  satu bulan lebih ini mereka seakan tidak mendengar arahan darinya. Mustafa menegaskan bahwa masalah pemecatan itu memang suda sesuai seperti apa yang mereka lakukan selama dirinya bertugas di kantor Desa Waiboga.

“ Padahal saya pernah katakan ke mereka sebentar Bupati datang  Desa ini untuk memberi pembagian sembako. Tapi tidak ada aparat Desa yang laksanakan tugas itu malah masyarakat biasa yang sibuk mempersiapkan kedatangan bupati,” tandas mustafa. (Ano)

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *