OPINI  

Pesan Dari Pantai Mandaong

Almun Madi (dok : penulis)

Penulis : Almun Madi (Pengajar/Akademisi)

 

Ada pesan perdamaian di pantai Mandaong, Jumat malam itu, beragam suku bahkan beda agama menyelimuti pikiran laki-laki Ambon ini yang tentunya dibesarkan diatas puing-puing sejarah 1999

Saya tidak menyaksikan secara langsung kemeriahan puncak HUT 19 tahun Halsel malam itu, Jumat (16/6/2022). Meskipun seharian kemarin berurusan di Kota Labuah, namun apa hendak di kata, pukul 21.00 WIT bersama KM. Quenmary berlayar ke Ternate ditengah evoria masyarakat pelosok membanjiri kota Labuha.

Mereka datang dengan moda transportasi kapal, motor dan ketinting nun jauh di pelosok, hanya untuk memeriahkan HUT 19 Halsel/1tahun kepemimpinan Usman-Bassam. Dari atas KM. Quenmary yang melintasi perairan Kupal, penumpang hanya menatap dari kejauhan, bahwa di darat sana, di seantero altar pantai Mandaong berbinar lampu beragam warna cahaya, para proletariat bersesakan, ada pemimpin mereka yang gagah diatas podium: Usman-Bassam.

Ada La Fildan yang mampu membuat rakyat terharu, bahkan meneteskan air mata, lebih-lebih saat Fildan mendengungkan lagu TANOAN. Kedatangan Fildan di Bumi Saruma membuat pergerakan rakyat Obi ke kota Labuha tak terbendung, Kapal Quanmary disesaki rakyat Obi, Pelabuhan kupal tumpa ruah. Ada juga Rara yang cantik, dan tentunya ada Vicky Salamor; Laki-Laki Cinta Beda Agama.

Nama yang terkhir ini, dia orang Ambon pelantun lagu : Manis Tapi Bukan Gula. Suaranya berkelas, sekelas Glenn Fredly. Tapi yang menarik darinya, ia tidak menyanyikan lagu berkosa kata Indonesia baku, melainkan bahasa daerah. Dan saya terkesima dengannya.

Sabtu pagi, saya menyakasikan unggahan Halsel 24 Jam secara full. Meskipun sesakali ada gangguan jaringan. Dari beberapa artis yang menghibur rakyat tercinta itu, saya terpikat dengan suara, gaya serta pesan yang keluar dari suara Vicky Salamor: Laki-laki Cinta Beda Agama. Ada cinta yang diperjuangkan, ada kasih, ada rasa yang terpendam, dan yang unik adalah ada pesan perdamaian, memupuk perdamaian walau kita beda agama.

“Lagu ini untuk nyong dan nona yang ada di Bacan dan bahkan untuk katong samua yang ada di sini, Beta mau bilang bahwa cinta bukan untuk orang yang pacaran saja, tapi nona mencintai ale karena ale bisa datang di sini dan mengapresiasi beta punya karya, beta memcintai sudara yang di rumah karena dia sudaranya beta, katong samua yang ada di sini mencintai katong punya pemimpin Bapak Bupati dan juga Ibu, Bapak Wakil dan juga Ibu, karena dong sudah memimpin Bacan Halsel dengan sangat baik,”

“Itulah Beta selalu bilang, di manapun beta berpijak, di manapun Beta konser, beta selalu bilang jangan perna melarang beta yang Kristiani untuk selalu mencintai Beta punya sudara Muslim walaupun hanya sebatas Saudara, karena apa?, karena katong pung cinta satukan perbedaan”, Demikian penggalan kata dari Vicky sebelum menyayikan lagu Cinta Beda Agama.

Ada pesan perdamaian di pantai Mandaong, Jumat malam itu, beragam suku bahkan beda agama menyelimuti pikiran laki-laki Ambon ini yang tentunya dibesarkan diatas puing-puing sejarah 1999. Ia mampu menghipnotis kaum hawa pejuang cinta, tapi juga mampu mengumendangkan suara perdamaian untuk para pemimpin dan eksekutor kebijakan di bumi Saruma. Terima Kasih Vicky.

Vicky bukan hanya pandai merangkai kata dalam lagu tapi mampu menyelipkan pesan perdamaian buat kita.

Halsel wajib dibangun diatas kemajemukan dan multikuralisme. Perbedaan itu harus dijawab dengan pembangunan tanpa diskriminasi, tanpa ada yang terginalkan, tanpa kata cerai berai. Wajib dirajut dan dibangun diatas fondasi pluralisme yang kuat, sekuat batin kita menapaki jalan terjal pengunungan, demi menggapai SENYUM bersama.

Pantai Mandaong menjadi sakasi dari kemeriahan HUT 19 Halsel, sebab sebelum konser ada juga pesan Agama, suasana religius saat Ustad Abdul Somad menyampaikan firman dan sabda di pantai ini dan semua tumpa ruah dengan batin yang haru biru.

Kita tak boleh lupakan semua pesan dipantai itu, mari kita mulai lembaran baru menuju usia 20. Garis-Garis imajiner dalam rancang bangun kota Labuha harus dipercepat dan dituntusakan. Labuha harus jadi icon kota layak huni, kota untuk semua dan tentunya kota pintar. Harus capat!. Sebab kesuksesan membangun kota Labuha menjadi prasyarat keberhasilan pembangunan di bumi Saruma, meskipun pembangunan juga diarahkan di seluruh pelosok dan pedesaan di semenanjung Selatan Halmahera.

Sejarah masa lalu, ketaatan kaum pelosok terdahulu (local wisdom) Bumi Saruma wajib dipungut dan dijadikan sebagai landasan utama bergerak, membangun Halsel yang tinggal landas.

Mansur Faqih dalam Kitab termashurnya: Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, yang juga mengurai teori pambangunan Rostow memberi jawaban atas itu: “Pertumbuhan ekonomi melalui empat tahap yaitu tradisional, transisi, lepas landas, dan menuju kematangan”. Pun Rostow juga mengilhami, “bahwa pembangunam merupakan poros yang bergerak dalam sebuah garis lurus yakni dari masyarakat terbelakang ke masyarakat maju”.

Kita tak boleh terbelalang ditengah arus globalosasi menghantam, digitaslisasi program penting diwujudkan, sebaran dokter di pelosok perlu dipikirkan, satu kecamatan satu anak desa ibu kecamatan wajib disekolahkan jadi dokter, guru wajib memberi motovasi, memberi inspirasi dan wajib menggerakkan rakyat di pelosok, bukan hanya menggugurkan kewajiban dalam kelas. Kita dituntut berkolaborasi dalam pekerjaan-pekerkaan sekecil apapun. Bergerak bersama merajut mimpi-mimpi kaum pelosok dan nantinya senyum bersama. Bukan berkolaborasi dalam aksi rasua, korup. Tetapi berkolaborasi, mensenyawakan pikiran bersama, dan tentunya menyatukan batin dan pikiran untuk rakyat.

Kita bergerak dengan kemampuan, keterampilan, keahlian dan kepakaran kita masing-masing. Yang sering mengkritik jangan hanya mengkritik, berikan solusi berilian, sebab mengkritik tanpa solisi adalah peredator bukan katalisator (meminjam ungkapan seorang senior saya).

Selamt Ultah 19 Halsel, kita songsong usia 20. Itu bukan hanya sekedar ucapan tetapi panggilan bekerja, bergerak dan maju melampaui ketertinggalan dan keterbelakangan menuju masyarakat maju, sebagaimana kata Rostow. Maka prestasi-prestasi yang disampaikam Pak Bupati kita di atas podium itu sejatinya dipertahankan dan diperjuangkan di usia 20 dan usia selanjutnya. Sebab kita (Halsel) baru menanjak dewasa.

Pemimpin dan para eksekutor kebijakan (pembantu Bupati) wajib energik, produktif dan mampu berinovasi merancang program sesuai visi dan misi SENYUM. Jika semua itu diniatkan dalam hati. Kita akan TINGGAL LANDAS.

\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *